Mujigunarto’s

A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Ilmu

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi, dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir, dan logika bahasa. Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf” (www.id.wikipedia.org).

Beberapa literarur menyebutkan bahwa Istilah dari filsafat berasal bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Munculnya filsafat pertama kali di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles.

  • Plato, filsuf besar Yunani mengatakan, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mencapai kebenaran yang asli, karena kebenaran mutlak di tangan Tuhan. Atau pengetahuan tentang segala yang ada.
  • Aristoteles, murid Plato mengatakan, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu matafisika, logika, retorika, pol itik, sosial budaya dan estetika.
  • Alfarabi, Filsuf besar muslim dengan gelar Aristoteles ke 2, mengatakan Filsafat adalah pengetahuann tentang yang ada menurut hakikatnya yang sebenarnya.
  • Immanuel Kant, Filsuf barat dengan gelar raksasa pemikir Eropa, mengatakan filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan:
    • apa dapat kita ketahui, dijawab oleh metafisika.
    • apa yang boleh kita kerjakan, dijawab oleh etika
    • apa yang dinamakan manusia, dijawab oleh antropologi.
    • sampai dimana harapan kita, dijawab oleh agama.
  • prof sanusi UPIDr. H. Achmad Sanusi , S.H., MPA., Guru besar Ilmu Filsafat UPI, mengatakan filsafat adalah suatu sikap pembentukan nilai dalam diri manusia melalui pemahaman yang bisa dimengerti (Kognitif), olah rasa (Afektif), gerak jiwa (Psikomotorik), kepercayaan (Believing Skill) dan Manajemen, sehingga dapat berfikir secara sistematis dan kritis untuk memperoleh suatu kebenaran.
  • Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan.Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat merupakan ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat adalah 1) Keheranan; 2) Kesangsian; 3) Kesadaran akan keterbatasan karena merasa dirinya sangat kecil, sering menderita, dan sering mengalami kegagalan. Hal ini mendorong pemikiran bahwa di luar manusia yang terbatas, pasti ada sesuatu yang tidak terbatas (Wijaya, 2014).

    Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis.Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat.Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh aliran-aliran pemikiran filsafat barat.Tanpa bermaksud untuk mengkonsentrasikan kajian pada pemikiran barat dan mengesampingkan pemikiran timur (Islam), kajian ini akan lebih banyak mengulas tentang sejarah aliran-aliran pemikiran barat dimulai dari zaman Yunani klasik yang pada akhirnya melahirkan spesialisasi dan sub-spesialisasi ilmu pada abad ke-20 (Musaddad, 2014).

    Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing-masing bidang yang ditelaah, yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara filsafat, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, di mana keduanya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama.

     

B. Paham Aliran Empirisme

  • Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi, yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang ini kemudian bertambah lagi, pertama teori tentang ada: tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran (metafisika), dan kedua kajian mengenai organisasi sosial atau pemerintahan yang ideal (politik). Kelima cabang utama ini berkembang lagi menjadi cabang filsafat yang lebih spesifik mencakup: Epistemologi (filsafat pengetahuan); Etika (filsafat moral); Estetika (filsafat seni); Metafisika; Politik (filsafat pemerintahan); Filsafat agama; Filsafat ilmu; Filsafat pendidikan; Filsafat hukum; Filsafat sejarah; Filsafat matematika dan sebagainya.

    Secara umum kajian tentang filsafat ilmu dapat dikelompokan dalam tiga golongan utama, yaitu Ontologi (teori hakekat), epistemologi (teori pengetahuan) dan Axiologi (teori nilai) seperti pada Gambar 1.

    Kajian Ilmu Filsafat

     

    Gambar 1. Pembagian Kajian Ilmu Filsafat

    Kedudukan aliran empirisme dari ketiga kajian filsafat terlihat pada Gambar 2.

    Aliran Empiris dalam Filsafat 1

  •  

    Gambar 2. Kedudukan Aliran Empirisme dalam Filsafat

    Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan.
    Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani (empeiria) dan dari kata experieti yang berarti “berpengalaman dalam”, “berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.
    Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai Empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.

    Menurut aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin.

    Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa seekor harimau di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menjelaskan bagaimana kita dapat sampai kepada kesimpulan tersebut. Jika kemudian kita mengatakan bahwa kita melihat harimau tersebut di dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita, namun dia hanya akan menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan, dengan jalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri (Basyit, 2009).

    Sumber pengetahuan dalam diri manusia itu banyak sekali. Salah satu paham yang memaparkan tentang sumber pengetahuan adalah paham empirisme. Empirisme merupakan paham yang mencoba memaparkan dan menjelaskan bahwa sumber pengetahuan manusia itu adalah pengalaman. Ilmu-ilmu empiris ini memperoleh bahan-bahan untuk sesuatu yang dinyatakan sebagai hasil atau fakta dari sesuatu yang dapat diamati dengan berbagai cara. Bahan-bahan ini terlebih dahulu harus disaring, diselidiki, dikumpulkan, diawasi, diverifikasi, diidentifikasi, didaftar, dan diklasifikasikan secara ilmiah.

    Paham empirisme telah banyak didiskusikan oleh orang-orang di bangku perkuliahan.Banyak yang menyatakan bahwa suatu penelitian itu harus didasarkan atas data empiris, namun menurut penulis dengan data empiris saja penelitian tidak cukup dan harus juga berdasarkan rasionalisme logis. Tuhan telah menciptakan akal bagi manusia sehingga membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lain. Akal harus difungsikan dalam suatu penelitian agar pembaca memiliki gambaran yang kuat untuk menerima hasil kajian ilmiah dari peneliti yang akan dijadikan sebagai pengetahuan. Paham empirisme banyak juga menuai sanggahan dari orang-orang rasionalis karena mengesampingkan akal dalam penelitian. Sehingga dapat dikatakan bahwa paham rasionalisme ini merupakan lawan dari paham empirisme (Hamdi, 2014).

    Istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani empiria yang berarti coba-coba atau pengalaman.Sebagai doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme (Ihsan, 2010). Kata empirisme menurut Amsal Bakhtiar berasal dari kataYunani empereikos yang berarti pengalaman.Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan dari pengalaman inderawi. Hal ini dapat dilihat bila memperhatikan pertanyaan seperti: “Bagaimana orang mengetahui es itu dingin?” Seorang empiris akan mengatakan, “Karena saya merasakan hal itu dan karena seorang ilmuan telah merasakan seperti itu”. Dalam pernyataan tersebut ada tiga unsur yang perlu, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek), dan cara dia mengetahui bahwa esitu dingin. Bagaimana dia mengetahui es itu dingin? Dengan menyentuh langsung lewat alat peraba.dengan kata lain, seorang empiris akan mengatakan bahwa pengetahuan itu diperoleh lewat pengalaman-pengalaman inderawi yang sesuai (Bakhtiar, 2012).

    Pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman-pengalaman inderawi yang sesuai dan pengalaman dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan bukan rasio. Oleh sebab itu, empirisme dinisabatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan yang dimaksudkan dengannya ialah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniyah yang menyangkut pribadi manusia (Praja, 2005).

    Sedangkan menurut Sutarjo menyatakan bahwa empirisme merupakan aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakikatnya didasarkan ataspengalaman atau empiri melalui alat indra (empiri). Empirisme menolak pengetahuan yang semata-mata didasarkan akal, karena dapat dipandang sebagai spekulasi belaka dan tidak berdasarkan realitas sehingga berisiko tidak sesuai dengan kenyataan.Pengetahuan sejati harus didasarkan pada kenyataan sejati, yaitu realitas (Sutardjo, 2009).

    Berbeda dengan Rasionalisme yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula. Dicari dengan akal artinya dicari dengan berfikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak.bila logis berarti benar, bila tidak logis berarti salah. Jadi sumber pengetahuan bagi paham Rasionalisme adalah akal yang logis (Tafsir, 2006).

    Dari beberapa uraian di atas tentang empirisme dan rasionalisme, keduanya memiliki kekurangan. Empiris (pengalaman) belumlah menjadi sebuah pengetahuan, karena masih merupakan bahan yang belum berbentuk. Pengalaman itu menjadi sebuah pengetahuan setelah diolah, dibentuk oleh akal kita. Pandangan ini juga selaras dengan pandangan Kant yang menyebut dirinya sebagai aliran Kritisme. Begitupula dengan akal (rasio) belum juga dapat menjadi sebuah pengetahuan, karena manusia memiliki akal yang terbatas. Sehingga terkadang orang menafsirkan sesuatu dengan akalnya sama-sama logis padahal sesuatu itu tidak sama, seperti ayam dan telur. Tanpa melibatkan konsep penciptaan tidak dapat ditemukan mana dari keduanya yang pertama kali ada. Adanya telur karena ayam, adanya ayam juga karena telur. Karena tidak pernah ditemukan ayam melahirkan seorang anak ayam sebelum telur. Oleh karena itu pengetahuan perlu ditinjau dari kemungkinan sumber lain (Hamdi, 2014).

    Adapun kekurangan empirisme menurut positivisme bahwa empirisme belum terukur. Empirisme hanya sampai pada konsep-konsep umum, seperti kelereng ini kecil, bulan lebih besar, bumi lebih besar lagi, matahari sangat besar, demikianlah seterusnya.Konsep ini belum operasional, karena belum terukur.Jadi, masih perlu alat-alat lain seperti paham positivisme. Paham positivisme mengajarkan bahwa kebenaran itu ialah yang logis, ada bukti empirisnya, dan terukur.”Terukur” inilah yang menjadi sumbangan penting positivisme. Positivisme akan mengatakan bahwa air kopi ini panasnya 80 derajat celcius, air mendidih ini 100 derajat celcius, ini panjangnya satu meter, dan lainnya.

    Oleh karena itu, filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis. Akan tetapi, teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman.Kalau kaum rasionalis berpendapat bahwa manusia sejak lahir di karuniai idea oleh Tuhan yang dinamakan “idea innatae” ( idea terang benderang atau idea bawaan) , maka pendapat impiris berlawanan mereka mengatakan bahwa waktu lahir jiwa manusia adalah putih bersih ( tabula rasa), tidak ada bekal dari siapapun yang merupakan “idea innatae”.

    Meskipun demikian positivisme telah memberi sumbangan terhadap paham empirisme yang dapat mengajukan logikanya, menunjukkan bukti empirisnya yang terukur, namun keduanya masih pula memiliki kekurangan. Kekurangannya menimbulkan pertanyaan “ Bagaimana caranya?”oleh karena itu masih diperlukan alat-alat lain seperti Metode Ilmiah. Metode ilmiah mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan yang benar dilakukan langkah berikut: logico – hypothetico – verificartif. Maksudnya, buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis berdasarkan logika itu, kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.

     

    1. TOKOH-TOKOH ALIRAN EMPIRISME

    Tokoh-tokoh pakar filsafat yang mengembangkan paham empirisme diantaranya Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, George Berkeley, dan David Hume. Sebagai aliran filsafat, empirisme merupakan salah satu dari dua cabang filsafat modern yang lahir pada zaman pencerahan.Bertentangan dengan rivalnya, rasionalisme, yang menempatkan rasio sebagai sumber utama pengetahuan, empirisme justru memilih pengalaman sebagi sumber utama pengetahuan baik lahiriah maupun batiniah.

    Aliran ini bertanah air di Inggris. Francis Bacon (1561-1626) bisa dikatakan sebagai peletak dasar lahirnya empirisme yang untuk kali pertama menyatakan pengalaman sebagai sumber kebenaran yang paling terpercaya. Kemudian paham ini diikuti dan dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), Jhon Locke (1632-1704), George Berkeley (1685-1753) dan mencapai puncaknya dalam filsafat David Hume (1711-1776).

    1. Francis Bacon (1561-1626 M)

    Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan sejati. Kata Bacon selanjutnya, kita sudah terlalu lama dpengaruhi oleh metode deduktif. Dari dogma-dogma diambil kesimpulan, itu tidak benar, haruslah kita sekarang memperhatikan yang konkret mengelompokkan, itulah tugas ilmu pengetahuan.

    1. Thomas Hobbes(1588-1679 M)

    Ia seorang ahli pikir Inggris lahir di Malmesbury. Pada usia 15 tahun ia pergi ke Oxford untuk belajar logika Skolastik dan Fisika, yang ternyata gagal, karena ia tidak berminat sebab gurunya beraliran Aristotelien. Sumbangan yang besar sebagai ahli pikir adalah suatu sistem materialistis yang besar, termasuk juga kehidupan organis dan rohaniah. Dalam bidang kenegaraan ia mengemukakan teori teori Kontrak Sosial (Achmadi, 2003).

    Materialisme yang dianut Hobbes yaitu segala yang bersifat bendawi. Juga diajarkan bahwa segala kejadian adalah gerak yang berlangsung secara keharusan. Bedasarkan pandangan yang demikian manusia tidak lebih dari satu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Manusia hidup selama jantungnya tetap bergerak memompa darahnya. Dan hidup manusia merupakan  gerak anggota-anggota tubuhnya. Menurutnya pula akal bukanlah pembawaan melainkan hasil perkembangan karena kerajinan. Ikhtiar merupakan suatu awal gerak yang kecil yang jikalau diarahkan menuju kepada sesuatu yang disebut keinginan, dan jika diarahkan untuk meninggalkan sesuatu disebut keengganan atau keseganan. Menurutnya pula pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan, yang disimpan didalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengamatan, yang disipan dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau (Hadiwidodo, 2005).

    Pendapatnya tentang ilmu filsafat yaitu suatu ilmu pengetahuan yang sifatnya umum. Karena filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang akibat-akibat atau tentang gejala-gejala yang diperoleh dari sebab-sebabnya. Sasaran filsafat adalah fakta yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan hukum ilmu pasti/ilmu alam.

    Menurut Thomas Hobbles berpendapat bahwa pengalaman  indrawi sebagai permulaan segala pengetahuan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan indralah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan pengabungan data-data indrawi belaka.

    1. Jhon Locke(1632-1704 M)

    John Locke lahir tanggal 29 Agustus 1632 di Wrington/Somersetshire dan meninggal di Oates/Essex tanggal 28 Oktober 1704. Ia dilahirkan dari keluarga yang memihak parlemen. Sikap puritan ayahnya sedikit banyak menularkan kepada anaknya sebuah sikap tidak suka pada aristokrasi (Hardiman, 2007).

    Menurutnya segala pengetahuan datang dari pengalaman, sedangkan akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Seluruh pengetahuan kita peroleh dengan jalan menggunakan dan membandingkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari pengindraan dan refleksi. Akal manusia hanya merupakan tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil penginderaan kita. Sedangkan obyek pengetahuan adalah gagasan-gagasan atau idea-idea, yang timbulnya karena pengalaman lahiriyah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection) dalam upaya mencari kebenaran atas pengetahuan. Reflection itu pengenalan intuitif serta memberi pengetahuan apakah kepada manusia lebih baik lebih penuh dari pada sensation. Sensation merupakan suatu yang memiliki hubungan dengan dunia luar tetapi tak dapat meraihnya dan tak dapat mengerti sesungguhnya. Tetapi tanpa sensations manusia tak dapat juga suatu pengetahuan. Tiap-tiap pengetahuan itu terjadi dari kerja sama antara sensation dan reflections. Tetapi haruslah ia mulai dengan sensation sebab jiwa manusia itu waktu dilahirkan merupakan yang putih bersih; tabula rasa, tak ada bekal dari siapa pun yang merupakan ide bawaan.

    Fokus filsafat Locke adalah antitesis pemikiran Descrates. Ia menyarankan bahwa akal budi dan spekulasi abstrak agar kita harus menaruh perhatian dan kepercayaan pada pengalaman dalam menangkap fenomena alam melalui pancaindera. Pengenalan manusia terhadap seluruh pengalaman yang dilaluinya seperti mencium, merasa, mengecap dan mendengar menjadi dasar bagi hadirnya gagasan-gagasan dan pikiran sederhana. Gagasan yang datang dari indra tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, memercayai dan meragukannya dan inilah akhirnya disebut bagian aktivitas merenung dan perenungan (Maksum, 2008).

    1. George Berkeley (1685-1753)

    George Berkeley lahir pada tanggal 12 Maret 1685 di Dysert Castle Irlandia dan meninggal tanggal 14 Januari 1753 di Oxford.  Sebagai penganut empirisme mencanangkan teori yang dinamakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empirisme. Ia bertolak belakang dengan pendapat John Locke yang masih menerima substansi dari luar. Berkeley berpendapat sama sekali tidak ada substansi-substansi material dan yang ada hanya pengalaman ruh saja karena dalam dunia material sama dengan ide-ide. Berkeley mengilustrasikan dengan gambar film yang ada dalam layar putih sebagai benda yang riil dan hidup. Pengakuannya bahwa “aku” merupakan suatu substansi rohani. Tuhan adalah asal-usul ide itu ada yang menunjukkan ide-ide pada kita dan Tuhanlah yang memutarkan film pada batin kita.

    Pandangan Berkeley ini sekilas seperti rasionalisme karena memutlakkan subjek. Jika diperhatikan lebih lanjut padangan ini termasuk empirisme, sebab pengetahuan subjek itu diperoleh lewat pengalaman, bukan prinsip-prinsip dalam rasio, meskipun pengalaman itu adalah pengalaman batin. Selanjutnya, dengan menegaskan tentang adanya sesuatu yang sama dengan pengertiannya dalam diri subjek dan juga ia beranggapan bahwa dunia adalah idea-idea kita.

    1. David Hume (1711-1776)

    Hume lahir pada tanggal 7 Mei 1711 di Edinburgh Inggris dan meninggal pada tanggal 25 Agustus 1776.  Empirisme mendasarkan pengetahuan bersumber pada pengalaman, bukan rasio. Hume memilih pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Pengalaman itu bersifat lahiriyah (yang menyangkut dunia) dan dapat pula bersifat batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Hume mengkritik tentang pengertian subtansi dan kausalitas (hubungan sebab akibat). Ia tidak menerima subtansi, sebab yang dialami manusia hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil pengindraan langsung atas realitas lahiriah, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan.

    Hume membagi kesan menjadi dua: kesan sensasi dan kesan refleksi. Kesan sensasi adalah kesan-kesan yang masuk ke dalam jiwa yang tidak diketahui sebab-musababnya. Misalnya (kita melihat sebuah meja kayu): benda yang saya lihat di depan adalah meja. Kesan refleksi adalah hasil dari gagasan. Gagasan jika muncul kembali ke dalam jiwa akan membentuk kesan-kesan baru. Kesan baru hasil pencerminan dari ide sebelumnya inilah yang disebut dengan kesan refleksi. Misalnya, (kita melihat sebuah meja dari besi): itu meja besi. Kita dapat menentukan bahwa itu meja walaupun terbuat dari bahan yang berbeda, karena sebelumnya kita sudah ada kesan sensasi terhadap meja kayu.

    Sedangkan ia menolak tentang kausalitas dan menurutnya bahwa pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Hume lebih suka menyebut urutan kejadian. Jika kita bicara tentang hukum alam atau sebab akibat, sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja.

    Pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan kesimpulan logika atau kemestian sebab akibat. Hukum sebab akibat tidak lain hanya hubungan saling berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti api membuat air mendidih. Dalam api tidak bisa diamati adanya “daya aktif” yang mendidihkan air. Daya aktif yang disebut hukum kausalitas itu tidak bisa diamati. Dengan demikian kausalitas tidak bisa digunakan untuk menetapkan suatu peristiwa yang akan datang berdasarkan peristiwa terdahulu.

     

    1. Menyikapi Paham Aliran Empirisme

    Suryasumantri (2009) menyebutkan bahwa masalah utama yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris ialah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung untuk menjadi suatu kumpulan fakta-fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif.

    Secara Empiris, (Sanusi, 2015) menyampaikan bahwa kehidupan dunia modern seperti sekarang ini begitu kompleks, untuk itu kita harus bisa mengahdapi kehidupan yang sangat komplek dengan enam sistem nilai kehidupan, yaitu:

    1. Nilai Teologi. Nilai Teologis mempunyai arti Nilai Ketuhanan. Nilai Teologis sudah ada pada diri kita sebelum fisik kita diciptakan artinya pada waktu di alam ruh. Jika nilai teologis, membuahkan ketenangan dan ketentraman pada jiwa dan raga pemeluknya, maka melalui kaitan organis antara nilai-nilai pendidikan Islam dengan dampak tersebut, memungkinkan nilai ini untuk dapat meninggalkan jejak yang jelas pada intelektual seorang muslim, sehingga terciptalah jalinan yang kokoh antara kebenaran, hukum, dan pola-pola perilaku yang membina diri seorang Muslim
    2. Nilai logik. Nilai Logik berkaitan dengan berpikir, memahami, dan mengingat adalah  pekerjaannya. Pikiran, pemahaman, pengertian, peringatan (ingat)  adalah buahnya. Nilai ini menjadi dasar untuk berbuat, bertindak. Allah dalam alquran banyak berfirman agar kita berfikir dengan sebutan lubb atau aqal dalam memahami alam ini.
    3. Nilai Fisik/Fisiologi. Nilai fisilologi berarti fisik maksudnya memaksimalkan fungsi fisik dalam menjalani kehidupan ini. Dalam fisik kita sebagai ciptaan Allah disadari atau tidak sangat berguna, namun ternyata kita telah lupa akan fungsinya akibatnya kita tertinggal jauh oleh orang di luar Islam terutama dalam sains dan teknologi, kita hanya bisa mengekor kepada dunia barat. Alamaududi seorang pembaharu Islam mengeritik kepada umat Islam bahwa umat Islam mundur karena tidak mengoptimalkan potensi dari Allah yaitu As-Sama (pendengaran), Al Basar (penglihatan), dan Fuad (hati).
    4. Nilai Etik. Nilai etik mempunyai arti hormat, dapat dipercaya, adil semua berkaitan dengan ahlak kita, nilai etik pada saat ini banyak tidak digunakan baik oleh orang yang bodoh ataupun orang yang katanya berpendidikan. Allah sangat memperhatikan akhlak dengan menyebutnya uswatun hasanah (suri tauladan yang baik)
    5. Nilai Estetika. Nilai estetika meliputi keserasian, menarik, manis, keindahan, cinta kasih. Allah menciptakan Alam bukan hanya bermanfaat tetapi ada keserasian serta keindahan, keteraturan. Dalam menjalani hidup kita jangan terlepas dari nilai estetika karena keserasian kita dengan orang lain dan alam sekitar sangat mendukung kita dalam kehidupan seperti kasih sayang di antara kita, keharmonisan. Kasih sayang serta keindahan adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Allah.
    6. Nilai Teleologi. Nilai teleologi berkaitan dengan manfaat, efektif, efesien  produktif dan akuntabel dalam setiap sisi kehidupan. Islam sangat memperhatikan maslahat dan manfaat dalam syariatnya untuk kepentingan manusia dengan lingkungannya.

     

    1. KESIMPULAN

    Dalam paham empirisme, pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan, baik pengalaman lahiriyah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniyah yang menyangkut pribadi manusia. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman atauempiri melalui alat indera. Paham empirisme ini dipertentangkan dengan paham rasionalisme yang mengatakan akal (rasio) sebagai sumber pengetahuan.

    Paham empirisme ini memiliki kekurangan, sehingga selain harus dipadukan antara keduanya juga harus ditinjau dari kemungkinan sumber lain,agar menghasilkan pengetahuan yang benar dan tidak meragukan. Seperti contoh yang ditambahkan oleh paham positivisme menambahkan selain logis, empiris, juga harus terukur. Selain itu juga diperlukan alat-alat lain agar tidak menimbulkan pertanyaan cara melakukan penelitian. Alat-alat yang dimaksud adalah Metode Ilmiah. Metode ilmiah mengatakan untuk memperoleh pengetahuan yang benar dilakukan langkah berikut: logico – hypothetico – verifikatif.  Maksudnya, buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis berdasarkan logika itu, kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.

    Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut ilmu tidak berpaling kepada perasaan tetapi pada pikiran yang berdasarkan penalaran. Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai masalah yang dihadapinya agar ia mengerti hakikat permasalahan itu dan dengan demikian maka ia dapat memecahkannya.Secara ontologis,maka ilmu membatasi diri masalah yang dihadapinya hanya pada masalah yang terdapat di dalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia.

    Karena masalah yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, apapun teori yang menjembatani keduanya. Yang dimaksud teori di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat di dalam dunia fisik tersebut. Teori merupakan abstraksi intelektual di mana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris.

    Maksud dari pendekatan secara rasional di sini adalah bahwa suatu ilmu sebetulnya disusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. Sedangkan secara empiris berarti ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dengan yang tidak. Dengan kata lain, suatu teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yakni ; (a) konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan; (b) harus cocok dengan fakta-fakta empiris sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah

      

    DAFTAR PUSTAKA

    Achmadi, Asmoro. 2003. Filsafat Umum. Rajawali Press, Jakarta.

    Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Ilmu, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

    Hadiwidodo, Harun. 2005. Sari Sejarah Filsafat Barat, Kanikus, Yogyakarta

    Hamdi, Muhammad, 2014. Makalah Paham Empirisme. Program Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrohim Malang.

    Ihsan, Fuad. 2010. Filsafat Ilmu. Rineka Cipta, Jakarta.

    Musaddad, 2014. Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu dan Alirannya. [online].

    Praja, Juhaya S. 2005. Aliran-Aliran Filsafat & Etika, Kencana, Jakarta.

    Sanusi, Achmad. 2015. Sistem Nilai. Alternatif Wajah-Wajah Pendidikan. Penerbit Nuansa Pendidikan. Bandung.

    Suriasumantri, Jujun.  2009. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

    Sutardjo. 2009. Pengantar Filsafat Edisi Revisi, Refika Aditama, Bandung.

    Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Ilmu, Rosdakarya, Bandung.

    Zubaedi dkk. 2007. Filsafat Barat, Ar-Ruzz Media. Jogjakarta.

    Wijaya, Yoga Permana, 2014. Landasan Berfikir Filsafat Manfaat dan Penerapanya Pembagian Filsafat Ciri Filsafat dan Landasan Filsafat. https://yogapermanawijaya.wordpress.com. Diakses tanggal 23 November 2015.

Iklan

Teknik analisis statistika yang sering digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel dependent dan independent adalah analisis regresi, yang hasilnya dinyatakan dalam satu model persamaan. Tetapi apabila hubungan antar variabel itu melibatkan variabel endogen dan eksogen, dan tidak hanya membentuk satu model persamaan, melainkan beberapa persamaan yang saling terkait yang membentuk persamaan berstruktur, maka diperlukan analisis untuk model persamaan struktural (structural equation models). Permasalahan seperti ini banyak ditemukan dalam bidang penelitian ekonomi khususnya manajemen, dimana variabel-variabelnya tidak dapat diukur secara langsung atau yang disebut sebagai variabel laten. Tujuan penelitian ini adalah untuk membentuk model struktural yang menyatakan hubungan kausal dari variabel bauran promosi sebagai variabel eksogen dan citra perusahaan serta kepuasan konsumen sebagai variabel intervening terhadap loyalitas pelanggan. Penelitian ini dilakukan terhadap 206 konsumen minyak pelumas mobil di Kota Palembang dengan teknik sampel area (area sampling design). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kausal yang terbentuk adalah: (1) Bauran promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap citra perusahaan, (2) Bauran promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen, tetapi citra perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan konsumen, dan (3) Bauran promosi, citra perusahaan, dan kepuasan konsumen berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Dalam hal ini citra perusahaan dan kepuasan konsumen merupakan variabel intervening bagi bauran promosi.

Kata Kunci: Model Persamaan Struktural. Variabel Endogen, Variabel Eksogen, Variabel Intervening
*) Makalah Seminar Nasional di UPI Bandung

fb

Posted on: 12 Juni 2009

Bagi yang berminat mengikuti pelatihan SPSS, silahkan daftar. Tempat terbatas.

Tulisan ini sudah lama di tulis dan sudah banyak juga beredar di internet, tapi saya coba munculkan lagi

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Langkah pertama pada setiap rencana marketing harus bisa mengevaluasi keseluruhan pasar potensial untuk masing-masing kategori. Misalnya dengan menjawab pertanyaan seberapa besar pasar potensial ini, berapa banyak bisnis atau orang yang menggunakan produk tersebut, apakan pasar ini berkembang atau mengalami kebangkrutan dan sebagainya. Secara umum, sebuah pasar yang sedang berkembang adalah pilihan yang paling banyak diminati. Tidak hanya karena mempunyai potensial penjualan yang baik tetapi biasanya lebih mudah dimasuki dan mudah membangun penjualan di tempat sedang berkembang. Namun, bagi perusahaan yang sangat kecil, pasar besar bisa menjadi pisau bermata dua. Pada sisi positif tentu saja terdapat penjualan besar yang potensial. Namun, pada sisi negatif terdapat kompetisi dari perusahaan besar yang dengan mudah mendapatkan akses pasar.

Untuk mencapai target penjualan dalam kondisi tersebut, para manajer perusahaan dapat menggunakan strategi bauran pemasaran (marketing mix), terdiri atas strategi produk, harga, distribusi, dan promosi, dan dikombinasikan dengan strategi umum, yakni diferensiasi, kepemimpinan biaya, dan fokus, serta ditunjang oleh strategi variasinya berupa penetrasi dan pengembangan pasar.

Sehubungan telah dicanangkannya Sumatera Selatan umumnya dan Palembang khususnya dalam “Visit Musi 2008”, Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang ingin lebih menata Kota Palembang dengan melibatkan manusia berpendidikan dan terampil untuk mempertahankan Kota Palembang sebagai daerah pariwisata dengan tetap mempunyai ciri khas. Sejak diselenggarakannya even PON (Pekan Olah Raga Nasional) dan dibukanya “Visit Musi” serta telah dilakukannya pembangunan infrastruktur di Kota Palembang, hotel tumbuh dengan pesat, termasuk hotel berbintang lima yang diperioritaskan di Kota Palembang.

Berkaitan dengan akan dibukanya Hotel Bintang Lima pada pertengahan tahun 2009, maka perlu dilakukan analisis diberbagai faktor diantaranya tentang bauran pemasaran (marketing mix). Marketing mix merupakan tools bagi marketer yang berupa program pemasaran yang mempertajam segmentasi, targeting dan positioning agar sukses. Ada perbedaan mendasar antara Marketing mix produk jasa dan Marketing mix produk barang. Marketing mix produk barang mencakup 4P: Product, Price, Place and Promotion. Sedang untuk jasa, keempat tahap tersebut masih ditambah 3 lagi: People, Process and Customer Service. Ketiga hal ini terkait dengan sifat jasa dimana produksi dan konsumsi tidak dapat dipisahkan dan mengikutsertakan konsumen dan pemberi jasa secara langsung. Karena elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain, bila salah satu tidak tepat akan mempengaruhi keseluruhan.


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Laman

November 2017
S S R K J S M
« Okt    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 110,943 hits

Flickr Photos