Mujigunarto’s

Teknik analisis statistika yang sering digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel dependent dan independent adalah analisis regresi, yang hasilnya dinyatakan dalam satu model persamaan. Tetapi apabila hubungan antar variabel itu melibatkan variabel endogen dan eksogen, dan tidak hanya membentuk satu model persamaan, melainkan beberapa persamaan yang saling terkait yang membentuk persamaan berstruktur, maka diperlukan analisis untuk model persamaan struktural (structural equation models). Permasalahan seperti ini banyak ditemukan dalam bidang penelitian ekonomi khususnya manajemen, dimana variabel-variabelnya tidak dapat diukur secara langsung atau yang disebut sebagai variabel laten. Tujuan penelitian ini adalah untuk membentuk model struktural yang menyatakan hubungan kausal dari variabel bauran promosi sebagai variabel eksogen dan citra perusahaan serta kepuasan konsumen sebagai variabel intervening terhadap loyalitas pelanggan. Penelitian ini dilakukan terhadap 206 konsumen minyak pelumas mobil di Kota Palembang dengan teknik sampel area (area sampling design). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kausal yang terbentuk adalah: (1) Bauran promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap citra perusahaan, (2) Bauran promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen, tetapi citra perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan konsumen, dan (3) Bauran promosi, citra perusahaan, dan kepuasan konsumen berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Dalam hal ini citra perusahaan dan kepuasan konsumen merupakan variabel intervening bagi bauran promosi.

Kata Kunci: Model Persamaan Struktural. Variabel Endogen, Variabel Eksogen, Variabel Intervening
*) Makalah Seminar Nasional di UPI Bandung

Iklan

fb

Posted on: 12 Juni 2009

Bagi yang berminat mengikuti pelatihan SPSS, silahkan daftar. Tempat terbatas.

Tulisan ini sudah lama di tulis dan sudah banyak juga beredar di internet, tapi saya coba munculkan lagi

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Langkah pertama pada setiap rencana marketing harus bisa mengevaluasi keseluruhan pasar potensial untuk masing-masing kategori. Misalnya dengan menjawab pertanyaan seberapa besar pasar potensial ini, berapa banyak bisnis atau orang yang menggunakan produk tersebut, apakan pasar ini berkembang atau mengalami kebangkrutan dan sebagainya. Secara umum, sebuah pasar yang sedang berkembang adalah pilihan yang paling banyak diminati. Tidak hanya karena mempunyai potensial penjualan yang baik tetapi biasanya lebih mudah dimasuki dan mudah membangun penjualan di tempat sedang berkembang. Namun, bagi perusahaan yang sangat kecil, pasar besar bisa menjadi pisau bermata dua. Pada sisi positif tentu saja terdapat penjualan besar yang potensial. Namun, pada sisi negatif terdapat kompetisi dari perusahaan besar yang dengan mudah mendapatkan akses pasar.

Untuk mencapai target penjualan dalam kondisi tersebut, para manajer perusahaan dapat menggunakan strategi bauran pemasaran (marketing mix), terdiri atas strategi produk, harga, distribusi, dan promosi, dan dikombinasikan dengan strategi umum, yakni diferensiasi, kepemimpinan biaya, dan fokus, serta ditunjang oleh strategi variasinya berupa penetrasi dan pengembangan pasar.

Sehubungan telah dicanangkannya Sumatera Selatan umumnya dan Palembang khususnya dalam “Visit Musi 2008”, Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang ingin lebih menata Kota Palembang dengan melibatkan manusia berpendidikan dan terampil untuk mempertahankan Kota Palembang sebagai daerah pariwisata dengan tetap mempunyai ciri khas. Sejak diselenggarakannya even PON (Pekan Olah Raga Nasional) dan dibukanya “Visit Musi” serta telah dilakukannya pembangunan infrastruktur di Kota Palembang, hotel tumbuh dengan pesat, termasuk hotel berbintang lima yang diperioritaskan di Kota Palembang.

Berkaitan dengan akan dibukanya Hotel Bintang Lima pada pertengahan tahun 2009, maka perlu dilakukan analisis diberbagai faktor diantaranya tentang bauran pemasaran (marketing mix). Marketing mix merupakan tools bagi marketer yang berupa program pemasaran yang mempertajam segmentasi, targeting dan positioning agar sukses. Ada perbedaan mendasar antara Marketing mix produk jasa dan Marketing mix produk barang. Marketing mix produk barang mencakup 4P: Product, Price, Place and Promotion. Sedang untuk jasa, keempat tahap tersebut masih ditambah 3 lagi: People, Process and Customer Service. Ketiga hal ini terkait dengan sifat jasa dimana produksi dan konsumsi tidak dapat dipisahkan dan mengikutsertakan konsumen dan pemberi jasa secara langsung. Karena elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain, bila salah satu tidak tepat akan mempengaruhi keseluruhan.


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Kualitas jasa yang akan dilihat dalam kasus ini adalah untuk melihat kualitas layanan Rumah Sakit, maka indikator yang dapat buat untuk mengukur masing-masing dimensi dalam SERVQUAL adalah sebagai berikut (Natalisa, 2008):
1. Tangible (Wujud Fisik), indikatornya adalah:
1) Penampilan eksterior Rumah Sakit secara visual,
2) Fasilitas yang rapi, bersih dan nyaman,
3) Penampilan karyawan yang energik, rapi dan bersih,
4) Penataan Interior Rumah Sakit.
2. Reliability (Kehandalan), indikatornya adalah:
1) Kehandalan dan ketepatan penanganan pasien,
2) Ketepatan melakukan dignosa, dan
3) Kesungguhan dalam melayani pasien.
3. Responsiveness (Daya Tanggap), indikatornya adalah:
1) Memiliki program perawatan yang bervariasi,
2) Lamanya menunggu dilayani/antrian,
3) Kecepatan pelayanan, dan
4) Memberikan informasi secara tepat dan lengkap.
4. Assurance (Jaminan), indikatornya adalah:
1) Memberikan rasa aman dalam pelayanan,
2) Adanya jaminan kerahasiaan pasien.
3) Ketrampilan dan profesionalisme dalam pelayanan.
5. Empathy (Perhatian), indikatornya adalah:
1) Perhatian dan pelayanan saat mengajukan protes/kritik,
2) Mengenal pasien secara pribadi, dan
3) Permohonan maaf atas pelayanan yang kurang baik.
Sumber: Natalisa D. 2008. Analisis Kualitas Layanan Rumah Sakit (Studi Kasus Perbandingan antara RSUP M Hoesin Palembang, RS Charitas Palembang, dan RS Pertamina Plaju). Makalah Seminar.

Laman

September 2017
S S R K J S M
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 104,594 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos